FENOMENA MUDIK DITINJAU DARI PERSPEKTIF SOSIOLOGI

 PENDAHULUAN

Selama sebulan penuh umat Islam melakukan ibadah puasa dibulan ramadhan. Setelah itu umat Islam merayakan hari kemenangan, yaitu hari raya idul fitri yang mana masyarakat Indonesia sering menyebutnya dengan istilah lebaran. Hari lebaran merupakan suatu hari yang sangat dinanti-nanti oleh semua umat Islam di dunia, tanpa terkecuali Indonesia. Indonesia sebagai salah satu negara dengan penganut agama Islam yang cukup besar di dunia sangat menanti-nanti datangnya hari raya idul fitri karena hari raya idul fitri dimaknai sebagai hari kemenangan, di mana seluruh umat Islam telah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Maka, tidak bisa dipungkiri bahwa hari raya idul fitri sangatlah ditunggu-tunggu oleh sebagian besar orang.

Pada masyarakat Indonesia, beberapa hari menjelang lebaran terjadi fenomena yang sangat unik, yaitu adanya tradisi mudik yang biasanya dilakukan oleh para perantau yang berasal dari kampung lalu bekerja di kota-kota besar. Mudik secara etimologis bermakna berlayar ke udik atau pergi ke hulu sungai. Sedangkan dalam KBBI mudik berarti pulang ke kampung halaman. Jadi, para perantau melakukan tradisi mudik karena ingin pulang untuk merayakan hari raya idul fitri di kampung halamannya.

Tradisi mudik menjadi sangat fenomenal karena dilakukan oleh ribuan orang bahkan jutaan masyarakat Indonesia sehingga tradisi ini menjadi sebuah sorotan dan menjadi tradisi khas di Indonesia. Para perantau rela berdesak-desakan dan bahkan rela mengeluarkan banyak uang untuk melakukan tradisi mudik, bahkan ada juga yang rela mengendarai sepeda motor dengan jarak yang cukup jauh. Sebegitu besarnya keinginan masyarakat untuk melaksanakan mudik menjadikan tradisi ini menjadi tradisi yang fenomenal setiap tahunnya, bahkan semakin lama tradisi ini melibatkan lebih banyak orang lagi, dan sekarang menjadi fenomena sosial yang sangat menarik. Sekarang ini bahkan dalam perkembangannya, tradisi mudik tidak hanya dilakukan oleh umat Islam saja, tetapi ada pula masyarakat yang non muslim juga melakukan tradisi mudik. Jadi hal ini menjadi sangat menarik karena dengan berbagai fakta yang ada dapat dikatakan bahwa mudik tidak hanya sekedar untuk merayakan lebaran saja, tetapi lebih dari itubanyak faktor-faktor yang mempengaruhinya. Di mana sebenarnya tidak hanya faktor untuk melakukan kegiatan keagamaan tapi lebih luas lagi karena terdapat faktor sosial dan ekonomi dibelakangnya.

PEMBAHASAN

Mudik merupakan fenomena sosial yang rutin setiap tahun terjadi. Mudik di sini dipahami sebagai liburan masal warga kota-kota besar di daerah asal mereka. Rutinitas mudik lebaran pada masyarakat setiap tahunnya sudah melekat menjadi tradisi sosial “interaksi simbol” yang menjadi keharusan setiap individu untuk berinteraksi tatap muka langsung.

Peningkatan arus mudik lebaran akan lebih terasa apabila menjelang hari sebelum dan sesudah lebaran (H-7 dan H+7), di mana hal ini  dapat dilihat dari kasat mata terjadinya fenomena antrean yang panjang dan saling berdesakan untuk berangkat menaiki transportasi, seperti bis, kereta api, dan kapal laut. Fenomena lainnya pemudik yang menggunakan kendaraan sendiri dengan mobil dan sepeda motor semakin memadati jalan raya menuju ke kampung halaman.

Tradisi mudik lebaran yang sudah berlangsung sejak masa lalu oleh masyarakat kita semakin tahun semakin menunjukkan angka yang terus meningkat. Jumlah warga kota yang mudik setiap tahun diperkirakan berkisar sekitar sepuluh hingga enampuluh persen. Hal ini dapat dilihat pada bukti empiris: saat liburan hari raya idul fitri tahun 2019 di jalan-jalan dan pusat-pusat keramaian kota besar seperti Semarang dan sekitarnya menjadi relatif sepi, yang ramai hanya pada jalur pantura karena dilewati oleh para pemudik dari Jakarta dan sekitarnya sedangkan di perumahan relatif menjadi sangat sepi. Begitu pula dengan suasana di desa saya juga mengalami perubahan, di mana desa saya pada hari-hari biasa terasa sepi, tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang, tetapi saat mudik tiba suasana di desa saya cenderung ramai, banyak kendaraan yang berlalu-lalang.

Mudik lebaran pada tahun-tahun terakhir ini tidak hanya menggunakan transportasi umum, akan tetapi juga banyak masyarakat yang menggunakan mobil pribadi, dan menggunakan sepeda motor. Di samping itu fenomena mudik lebaran pada masyarakat yang terjadi tidak hanya mudik kota ke desa, akan tetapi juga terjadi fenomena mudik lebaran dari luar negeri ke desa. Mudik dari luar negeri ini biasanya dilakukan oleh para TKI dan TKW yang bekerja di Malaysia, Singapura, Taiwan, Jepang, Hongkong, dan dari negara-negara Arab.

Perjalanan mudik lebaran oleh masyarakat kota dan luar negeri pada setiap tahunnya menurut perspektif masyarakat sudah menjadi kewajiban yang harus dilakukan walaupun perjalanan mudik dirasakan tidak nyaman, seperti adanya kenaikan ongkos yang melebihi dari ketentuan dan kurang terjaminnya faktor keamanan. Di sini mengapa tradisi mudik terus berlangsung dan meningkat padahal untuk merasakan kenyamanan fasilitas dan kesiapan kendaraan tersebut masih jauh dari harapan para pemudik? Menurut tinjauan secara sosiologis warga masyarakat terutama yang ada di desa saya memanfaatkan mudik sebagai waktu untuk bersilaturami ke tetangga, sanak saudara, dan melakukan ziarah kubur ke makam para anggota keluarga yang sudah lebih dahulu meninggal. Selain itu alasan mereka mudik adalah untuk melepas rindu kepada sanak saudara, melepas kepenatan, menunjukkan kesuksesan di kota, mendidik anak dengan kehidupan desa, atau mungkin sekedar refreshing menghindar sebentar dari kebisingan kota serta kecemaran udara oleh asap mesin dan debu.

Fenomena mudik muncul dan menjadi trend menarik sejak kota-kota di Indonesia berkembang pesat sebagai imbas integrasi pada sistem ekonomi kapitalis di awal tahun 1970-an. Warga kota yang banyak diantaranya para pendatang melakukan aktivitas mudik pada kesempatan-kesempatan tertentu, yaitu pada hari libur kerja yang panjang dan bermakna kultural, salah satunya adalah mudik lebaran. Berbicara mengenai motif mudik warga kota besar, kita dapat melihat melalui konteks rasionalisasi masyarakat. Di awal integrasi masyarakat Indonesia pada sistem ekonomi kapitalis dunia, di mana tingkat rasionalisasi relatif belum berkembang, mudik mempunyai motif tradisionalistik, yaitu warga kota mengisi kembali ruh pola-pola kehidupan tradisional yang terkikis dalam persentuhan dengan modernisasi di kota-kota besar.

Mudik dapat dipandang sebagai penegasan rutin keanggotaan warga kota besar pada ikatan daerah asal desa atau kota-kota kecil. Mudik pun syarat simbol kultural mengenai cerita sukses warga desa berjuang di kerasnya kehidupan kota-kota besar. Mudik dapat dikatakan sebagai perilaku sosial karena biasanya orang yang mudik dinilai sebagai seseorang yang sukses dalam mencari rezeki. Akan berbeda dengan sebaliknya, mereka yang tidak mudik di hari raya idul fitri akan dianggap gagal dalam merantau. Padahal pada konteks ini, warga yang tidak mudik biasanya diinterpretasikan berdasarkan alasan yang familiar seperti berhalangan karena tidak mendapatkan cuti kerja, kehabisan tiket atau mulai lupa dengan kampung halaman. Selain itu ada pula alasan yang tidak mudik karena sudah tidak mempunyai orang tua, mereka beranggapan bahwa untuk apa pulang jika sudah tidak ada orang tua, tetapi ada pula yang walaupun orang tua mereka sudah tiada tetap melakukan mudik untuk berkumpul dengan sanak saudara.

Mudik sebenarnya kamuflase dari semangat memperoleh legitimasi sosial dan menunjukkan eksistensinya, misalnya fenomena musik sering dijadikan sebagai media untuk menunjukkan kesuksesan di kota. Status sosial yang diperoleh perlu diketahui sanak saudara. Dapat dilihat dari mereka mudik dengan kendaraan pribadi, walaupun harus menyewa dari rental. Mereka rela mengeluarkan uang banyak untuk menyewa mobil demi prestis yang ingin didapat.

Tampaknya kini setelah masyarakat Indonesia berkiprah dalam dunia ekonomi berorientasi pasar, motif mudik telah bergeser ke arah yang lebih rasional. Warga kota-kota besar mudik pada umumnya karena alasan rekreasi keluarga dalam suasana kekeluargaan dan pertemuan keluarga luas yang praktis, efisien, serta pada saat yang tepat secara sosio kultural. Mungkin suatu saat nanti akan terjadi pengurangan jumlah warga yang mudik sebagai konsekuensi dari efisiensi, mudik akan menjadi semacam gaya hidup yang bersifat rasional dan dilakukan tidak hanya pada even hari raya namun pada saat cuti kerja, dan mudik dapat bertalian dengan aspek pengembangan jaringan ekonomi. Dengan kata lain, mudik akan tetap ada meskipun dalam format berbeda, yaitu menjadi instrumen ekonomi.

PENUTUP

Dari fenomena di atas dapat disimpulkan bahwa tradisi mudik merupakan tradisi yang fenomenal karena melibatkan jutaan manusia dan menjadi tradisi khas yang ada di Indonesia. Tradisi mudik bagi masyarakat Indonesia bukan sekedar tradisi keagamaan semata tapi menjadi sebuah momen untuk bersilaturahmi dengan keluarga serta yang paling menarik ternyata hal ini juga digunakan sebagai momen untuk menunjukkan keberhasilannya di tanah rantau. Selain itu mudik juga menjadi momen untuk mengembalikan jati dirinya. Di mana selama bekerja di kota, mereka seperti skrup dari mesin besar kota yang tidak begitu berpengaruh. Di kampung halaman mereka sejenak melupakan hiruk pikuk kebisingan, gertakan, dan ancaman di kota. Selama di kampung halaman mereka akan menemukan jati dirinya yang hilang selama di kota. Di mana ketika di kota mereka dipanggil dengan sebutan buruh, pembantu, dan lain-lain. Sementara di kampungnya mereka dipanggil abang, anak, adik, saudara, dan lain-lain. Dapat dikatakan para kaum urban akan memperoleh status sosial yang tinggi serta memperoleh arti kemanusiaan di kampung halamannya yang tidak bisa didapat di kota.

Sebaiknya para pemudik ketika melakukan tradisi mudik dilakukan secara teratur dan rapi sehingga dapat menjadi sebuah wisata tradisi religius menjelang lebaran. Kemudian kepada pemerintah agar lebih meratakan pembangunan di desa sehingga urbanisasi tidak terus meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Ebta Setiawan. 2019. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). [Internet].

Tersedia di: https://www.google.com/amp/s/kbbi.web.id/mudik.html

Maman S Mahayana. 2011. Akar Sosiologis Mudik Lebaran. Kompas.com. [Internet].

Tersedia di: https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/megapolitan/read/2011/09/02/0253314/Akar.Sosiologis.Mudik.Lebaran

Zulkarnain Nasution. 2017. Fenomena Mudik Lebaran. Times Indonesia. [Internet].

Tersedia di: https://www.google.com/amp/s/amp.timesindonesia.co.id./read/150510/20170619/084158/fenomena-mudik-lebaran/


Comments

Popular Posts