KEARIFAN LOKAL TRADISI BARITAN DAN NILAI SOSIAL BUDAYA DI DESA GROGOLAN, KABUPATEN BOYOLALI

 PENDAHULUAN

Kearifan adalah sesuatu yang didambakan umat manusia di dunia ini. Kearifan dimulai dari gagasan-gagasan dari individu yang kemudian bertemu dengan gagasan individu lainnya, seterusnya berupa gagasan kolektif. Kearifan lokal ini biasanya dicipta dan dipraktikkan untuk kebaikan komunitas yang menggunakannya. Kearifan lokal ini juga tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan masyarakat yang mendukungnya. Kearifan lokal, biasanya mencakup semua unsur kebudayaan manusia, yang mencakup: sistem religi, bahasa, ekonomi, teknologi, pendidikan, organisasi sosial, dan kesenian. Kearifan lokal bermula dari ide atau gagasan, yang kemudian diaplikasikan dalam tahapan praktik, dan penciptaan material kebudayaan.

Kearifan lokal menurut UU No. 32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah “Nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat antara lain melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari”. Menurut Ridwan (2007) kearifan lokal atau yang sering disebut dengan lokal wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap suatu objek atau peristiwa yang terjadi dalam ruangan tertentu. Di mana wisdom dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirannya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap suatu objek atau peristiwa yang terjadi.

Menurut Apriyanto (2008) kearifan lokal adalah berbagai nilai yang diciptakan, dikembangkan dan dipertahankan oleh masyarakat yang menjadi pedoman hidup mereka. Jadi, kearifan lokal dapat dipahami sebagai gagasan dan pengetahuan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik dan berbudi luhur, yang dimiliki, menjadi pedoman, dan dilaksanakan oleh seluruh anggota masyarakat.

Baritan merupakan salah satu kearifan lokal yang sampai saat ini masih dilestarikan di Desa Grogolan, Kabupaten Boyolali. Di mana tradisi ini dilaksanakan secara turun temurun sejak tahun 50-an. Baritan berarti bubarake peri lan setan, yang berarti membubarkan peri dan setan. Tradisi ini merupakan upacara adat yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terhadap peristiwa alam. Ada beberapa nilai-nilai sosial budaya yang terdapat dalam Tradisi Baritan ini, yaitu adanya totalitas di dalam masyarakat yang mencakup kepercayaan, adat, kebiasaan, dan norma yang ada di dalam masyarakat. 

PEMBAHASAN

Pelaksanaan Tradisi Baritan di Desa Grogolan, Kabupaten Boyolali

Desa Grogolan merupakan salah satu desa dari 16 desa di wilayah Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali yang terletak di kilometer 4 arah tenggara dari Kecamatan Karanggede. Desa Grogolan merupakan desa perbukitan yang keberadaannya diperkirakan telah berdiri sekitar sebelum tahun 50-an. Desa ini merupakan desa yang penduduknya sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, karena di wilayah Desa Grogolan masih terdapat banyak persawahan.

Desa Grogolan penduduknya masih sangat melestarikan kearifan lokal yang ada, salah satunya adalah kearifan lokal yang berbentuk Tradisi Baritan. Tradisi Baritan adalah upacara adat yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat dan peristiwa alam. Tradisi ini tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Pada masyarakat petani, tradisi ini sering disebut dengan istilah sedekah bumi, sedangkan pada masyarakat nelayan juga disebut sedekah laut. Walaupun demikian, Baritan yang dilakukan baik oleh masyarakat petani maupun nelayan memiliki tujuan yang sama.

Tradisi Baritan sebenarnya hampir sama dengan Tradisi Sedekah Desa, bedanya adalah Tradisi Sedekah Desa diselenggarakan setiap satu tahun sekali setelah panen besar dan hanya dilakukan secara sederhana sedangkan Tradisi Baritan diselenggarakan setiap sewindu sekali atau delapan tahun sekali setelah panen besar dan diselenggarakan secara besar-besaran. Tradisi Baritan dilakukan oleh masyarakat Desa Grogolan secara serentak yang berpusat di suatu tempat yang biasanya telah disepakati bersama oleh warga. Upacara dalam Tradisi Baritan ini terdiri dari berbagai rangkaian acara yang dipimpin langsung oleh sesepuh desa dan tokoh agama. Upacara ini dimulai dari pagi hari pukul 09.00, yaitu diawali dengan kegiatan arak-arakan mengelilingi kampung dengan mengenakan pakaian adat Jawa, ada pula yang mengenakan topeng, riasan wajah, dan lain-lain. Kegiatan arak-arakan ini bertujuan untuk meramaikan desa. Tidak hanya sekedar arak-arakan mengelilingi desa, tetapi mereka juga berjalan mengelilingi desa dengan mengarak tumpeng yang berisi nasi dan berbagai hasil bumi, seperti sayuran, buah-buahan, dan lain sebagainya yang menunjukkan rasa syukur atas kelimpahan pangan yang telah diberikan Tuhan kepada masyarakat. Tumpeng tersebut diletakkan di atas traktor dan dijalankan, kemudian di belakangnya terdapat patung sapi yang ditarik oleh traktor yang berarti bahwa traktor ataupun sapi tersebut telah membantu meringankan pekerjaan petani warga desa. Lalu kemudian di belakangnya diikuti oleh warga masyarakat.  Upacara ini diiringi lantunan sholawat al-barzanji yang dipimpin oleh seorang tokoh agama yang ada di Desa Grogolan. Biasanya para warga mengumpulkan nasi tumpeng, kue-kue, atau makanan yang lainnya ke tempat yang sudah ditentukan sebagai tempat pelaksanaan upacara Baritan. Setelah arak-arakan selesai semua anggota masyarakat berkumpul, kemudian salah satu tokoh agama memimpin tahlil, doa, dan melantunkan sholawat bersama yang ditujukan untuk para leluhur yang sudah tiada. Setelah itu, tumpeng, kue, dan makanan yang lainnya dibagikan secara merata kepada masyarakat yang hadir pada upacara tersebut untuk dimakan bersama, tetapi tumpeng utama tetap disimpan sebagai upacara penutup Tradisi Baritan.

Setelah kegiatan arak-arakan tumpeng selesai, dilanjutkan dengan pentas seni yang diikuti oleh perwakilan warga masyarakat setiap RT, mereka mengadakan pertunjukan yang berbeda-beda, ada yang menari,menyanyi, drama, dan lain sebagainya. Kemudian dilanjutkan dengan kesenian ledek dan ketropak yang didatangkan dari daerah lain, yaitu Purwodadi. Mereka memilih kesenian ledek dan ketropak untuk memeriahkan acara tersebut karena untuk menguatkan komunikasi sosial, untuk mengingat kembali adanya sejarah-sejarah di tanah Jawa melalui kesenian ketropak, dan sebagai hiburan. Acara ini akan berakhir sampai pukul 03.00 pagi dan ditandai dengan dipotongnya ujung tumpeng utama yang digunakan saat arak-arakan.

Tujuan dilaksanakan Tradisi Baritan

Setiap tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pastinya memiliki tujuan, begitu pula dengan Tradisi Baritan ini. Tradisi Baritan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Grogolan bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan hasil bumi yang melimpah dan keselamatan serta kesejahteraan masyarakat. Selain itu Tradisi Baritan sebagai sarana memanjatkan doa agar masyarakat dijauhkan dari bencana, dan dijauhkan dari segala penyakit.

Nilai Konservasi, Sosial, dan Budaya dalam Tradisi Baritan

Pelaksanaan Tradisi Baritan yang diselenggarakan oleh masyarakat Desa Grogolan, Kabupaten Boyolali merupakan usaha masyarakat setempat untuk menjaga keseimbangan alam, manusia menjaga hubungan dengan penguasa alam dan menjaga hubungan dengan sesama manusia.

Pada zaman dahulu, Tradisi Baritan merupakan sarana pemujaan kepada nenek moyang agar masyarakat dijaga dari hal-hal yang tidak diinginkan dan tanaman diberikan kesuburan, tetapi kini seiring dengan perkembangan zaman dengan masuknya agama Islam di Desa Grogolan hakekat Upacara Baritan adalah usaha bersama masyarakat memohon kepada Allah agar selalu diberi keselamatan, dijauhkan dari bencana, dan diberi kesejahteraan. Di sini sebenarnya terjadi sinkretisme, di mana masyarakat Desa Grogolan bisa menerima datangnya agama Islam, mengganti semua doa-doa Jawa yang dilantunkan saat Baritan dengan doa-doa keislaman, akan tetapi tidak meninggalkan kebudayaan lama, yaitu tetap menggunakan tumpeng, dan rangkaian upacara lainnya. Oleh karena itu, sebagian masyarakat masih ada yang memiliki  kepercayaan bahwa tumpeng memiliki berkah.

Walaupun zaman sudah semakin modern, masyarakat Desa Grogolan tidak meninggalkan Tradisi Baritan, para orang tua selalu mengenalkan tradisi tersebut kepada anak-anaknya, karena di dalam tradisi tersebut sudah tertanam sebuah kepercayaan dari masyarakat setempat untuk memperoleh keselamatan dan kesejahteraan serta ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu di dalam Tradisi Baritan terdapat kearifan budaya Jawa yang terdiri dari eling sangkan paraning dumadi yang tercermin dari ritual doa dari masyarakat yang bertujuan agar masyarakat selalu eling atau ingat dari mana mereka berasal dan kemana mereka akan kembali, yaitu kepada Tuhan. Kemudian ada pula mikul dhuwur mendem jero yang tercermin dari sikap antusias warga masyarakat dalam mengikuti acara tersebut, agar mereka mampu memperlihatkan kebaikan dari keluarga yaitu dengan memperlihatkan kebersamaan keluarga. Yang terakhir ada rukun agawe santoso yang tercermin dari kerukunan warga masyarakat dalam menyelenggarakan acara tersebut, saat acara tersebut berjalan semua warga masyarakat bersatu, berbaur, dan rukun sehingga mampu menciptakan suasana yang harmonis. Maka dari itu, Tradisi Baritan akan tetap terus dilestarikan oleh masyarakat.

 Generasi muda di Desa Grogolan sangat menerima bahkan sangat bergembira saat Tradisi Baritan di laksanakan, para pemuda selalu berupaya untuk menjaga Tradisi Baritan ini agar tetap lestari sampai generasi seterusnya. Upacara tradisi ini mempunyai nilai sosial untuk mengintensifkan solidaritas masyarakat, karena dengan adanya kegiatan upacara tersebut masyarakat bergotong-royong, bahu-membahu, bekerja-sama tanpa pamrih, bersatu untuk melangsungkan acara tersebut, rukun, tolong-menolong, dan memelihara tali silaturahmi antar warga. Selain itu adanya upacara ini mencerminkan sikap religius masyarakat yang selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian upacara ini sebagai sarana untuk mengingat jasa-jasa leluhur yang telah mendirikan desa.

PENUTUP

Tradisi Baritan merupakan sebuah tradisi yang diselenggarakan oleh masyarakat Desa Grogolan setiap delapan tahun sekali saat usai panen besar. Tradisi Baritan bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan hasil bumi yang melimpah dan keselamatan serta kesejahteraan masyarakat. Selain itu Tradisi Baritan sebagai sarana memanjatkan doa agar masyarakat dijauhkan dari bencana, dan dijauhkan dari segala penyakit.

Maraknya berbagai tradisi untuk memperingati ataupun merayakan peristiwa penting dalam perjalanan hidup manusia dengan melaksanakan serangkaian upacara itu, di samping merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat sekaligus sebagai manifestasi upaya manusia untuk mendapatkan ketenangan rohani. Tradisi Baritan yang selalu dilaksanakan masyarakat Desa Grogolan merupakan bukti masih kuatnya tradisi yang ada di desa.

Comments

Popular Posts