KONDISI PEMILIHAN UMUM DI DESA GROGOLAN, KECAMATAN KARANGGEDE, KEBUPATEN BOYOLALI

 

Rabu, 17 April 2019 merupakaan saat-saat dimana seluruh warga negara Indonesia berhak menyalurkan suaranya, mengikuti pesta demokrasi dalam rangka pemilihan pemimpin negara Republik Indonesia di periode yang akan datang, baik pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/ Kota, dan DPD. Dimana pemilu tahun ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena pada tahun sebelumnya tidak ada pemili secara serentak, berbeda dengan tahun ini yang mana pemilu diadakan secara serentak.

Antusiasme warga sangat besar, dimana kebanyakan dari warga ingin mendapatkan perubahan dari pemimpin untuk menjadikan negara Indonesia menjadi negara yang lebih baik, lebih maju, lebih berjaya, dan lebih makmur lagi. Begitu pula dengan antusiasme dari warga Desa Grogolan, yang mana dari hari sebelum diadakannya pemilu warga desa sudah mempersiapkan semuanya untuk memeriahkan dan melancarkan acara pemilu tersebut, mulai dari membersihkan tempat yang akan digunakan sebagai tempat dilangsungkannya pemilu, menghias tempat, menata, dan lain sebagainya. Dan di malam sebelumpemilu dilaksanakan banyak warga yang melakukan tirakatan di pos tempat pemilu, ada warga yang rela berjaga dan tidak tidur untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuktanggal 17 April 2019 dimana pemilu akan dilaksanakan.

17 April 2019 pukul 07.30 saya sudah menuju ke pos 6 untuk ikut serta menyalurkan hak suara saya dan ini pertama kali bagi saya. Saat saya sampai di pos 6 saya melihat sudah banyak orang yang bersiap-siap untuk menyalurkan suaranya disana ada KPPS, SAKSI, Peserta pemilu, BANWASLU, PANWASLU, Polisi, dan hansip. Tetapi di TPS tempat saya memilih tidak semeriah dengan TPS-TPS dit tempat lain yang sempat saya lihat. Di tempat lain saya melihat TPS-TPS yang dihias menarik tetapi di tempat saya tidak ada hiasan, hanya perlengkapan alakadarnya seperlunya saja. Disana terdapat beberapa kursi, meja, empat bilik suara, lima kotak suara dan satu tempat tinta. Akan tetapi, walaupun seperti itu tidak menyurutkan semangat para warga untuk menyalurkan hak suaranya, para warga dari yang remaja sampai orang tua datang berbondong-bondong ke TPS. Semua berjalan dengan kondusif tetapi memang sedikit antre karena banyaknya yang mengikuti pemilu. Di bagian depan ada sebuah papan yang ditempelkan beberapa kertas yang berisi calon presiden dan wakil presiden beserta visi misinya, calon pemimpin DPR RI, DPRD PROVINSI, DPRD Kabupaten/ Kota, dan DPD. Dimana warga bisa melihat terlebih dahulu siapa calon-calon pemimpin sebelum memilih pilihannya. Cara mengikuti pemilu adalah peserta masuk untuk menyerahkan undangan kepada panitia dan mendaftar, setelah itu peserta dipersilahkan duduk untuk menunggu dipanggil, setelah beberapa saat satu-persatu peserta dipanggil dan diberi kertas suara sebanyak lima dimana itu terdiri dari kertas untuk memilih presiden dan wakil presiden (kertas berwarna abu-abu), DPR RI (kuning), DPRD Provinsi (biru), DPRD Kabupaten/ Kota (hijau), dan DPD (merah). Setelah itu peserta dipersilahkan menuju ke bilik untuk menyoblos pilihannya dan kemudian dimasukkan ke dalam kotak suara. Terakhir peserta mencelupkan jari kelingking sebelah kiri ke dalam tinta biru sebagai tanda bahwa sudah mengikuti pemilu. Tetapi saat ini kali pertama saya mengikuti pemilu saya merasa bahwa pemilu ini terasa begitu menyeramkan. Karena benar-benar ketat pengawasannya dan sangat hening, hanya ada suara petugas yang melayani pendaftaran, mengarahkan dan petugas yang memanggil satu persatu peserta pemilu. Disini tidak boleh mengambil gambar dari kegiatan pemilu, entah apa alasannya memang tidak diperbolehkan. Setelah saya selesai mengikuti pemilu pun saya tidak diperkenankan untuk berada di dalam ruangan harus segera keluar ruangan pemilu.

Setelah saya selesai mengikuti pemilu saya mencari beberapa informan untuk saya mintai pendapatnya, ternyata diluar ekspektasi saya. Yang pada sebelumnya saya kira mencari informan di desa itu mudah ternyata ini susah. Saya hanya mendapatkan tiga informan yang salah satunya tidak sampai selesai saya wawancarai sudah pergi. Pertama saya mewawancarai seorang bapak-bapak bernama pak Slamet, awalnya beliau bilang kepada saya “kalau kamu butuh bantuan apa-apa bilang ke saya”. Setelah itu pertanyaan pertama saya berikan kepada pak Slamet “Kenapa Bapak begitu antusias mengikuti pemilu ini?” pak slamet menjawab “Karena ini kesempatan saya untuk memilih pilihan yang diberikan, dan saya menyadari saya sebagai warga yang baik harus mengikuti pemilu ini dengan baik pula, selain itu saya mengikuti pemilu ini karena ada kepenyingan dibalik ini semua kepentingan umun dmana saya ingin adanya perubahan untuk Indonesia yang lebih baik lagi, yang sekarang itu sudah baik tetapi harus diperbaiki untuk menjadi yang lebih baik lagi”. Karakter pemimpin yang diinginkan pak Slamet adalah pemimpin yang adil dan jujur. Setelah beberapa saatb Pak Slamet beranjak untuk pergi.

Kemudian informan yang ke dua saya mewawancarai Cak Dibyo, dimana beliau adalah seorang panwaslu. Pak Dibyo sangat antusias mengikuti pemilu tahun ini adalah karena pemilu tahun ini mengingatkan kepada pak Dibyo dari pemilu tahun 1999, dimana pada tahun itu diadakan pemilu secara langsung dan adanya permusuhan dari partai kuning dan merah. Dan saat ini terjadi perselisihan antara paslon kiri dan kanan, hal tersebut sangat mengingatkan pak Dibyo kepada pemilu tahun 1999. Maka dari itu pak Dibyo menginginkan adanya ketenangan, kedamaian pada pemilu saat ini. Yang kenyataannya pemilu saat ini begitu terasa memanas. Kemudian pak Dibyo menginginkan pemimpin yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah dimana pemimpin itu harus mempunyai kriteria meletakkan kemaslahatan rakyat sebagai pusat dalam tiap pegambilan keputusan. Pak Dibyo tidak tau, tidak pernah membaca visi misi dari seorang calon presiden karena dianggap tidak perlu. Visi misi tidak akan mempengaruhi pilihannya karena pilihan itu datangnya dari hati. Beliau mengilustrasikannya dengan apabila kita mencintai seseorang kita tidak perlu bertanya kamu punya apa. Harapan dari Pak Dibyo untuk kepemimpinan selanjutnya siapapun pemimpinnya dalah mampu menjadikan negara Indonesia menjadi negara yang lebih baik, dan mampu meningkatkan kemakmuran Indonesia.

Informan yang terakhir saya mewawancarai seorang anak muda yang juga sama-sama ingin menyalurkan hak suaranya, yaitu bernama Wisnu. Dia sangat antusias mengikuti pemilu tahun ini karena ini merupakan pemilu pertama bagi dia dan dia menganggap bahwa mengikuti pemilu adalah hak dan kewajiban bagi setiap warga negara indonesia maka dari itu dia sangat bersemangat untuk mengikuti pemilu. Kriteria pemimpin yang Wisnu pilih adalah pemimpin yang jujur dan bermasyarakat tentunya. Saya rasa kebanyakan dari peserta pemilu tidak mengetahui apa itu visi dan misi calon pemimpin, begitu juga dengan wisnu dia hanya pernah membaca melalui televisi dan dia belum begitu memahaminya. Kemudian saya menyodorkan hp saya dimana terdapat visi misi calon presiden dan wakil presiden, baik nomor urut 01 ataupun 02. Setelah dia membaca ternyata sama sekali tidak mempengaruhi pilihannya. Dia tetap memilih pilihannya sendiri sebelum dia membaca visi misi calon pemimpin. Harapan dari Wisnu untuk kepemimpinan selanjutnya adalah pemimpin mampu membahagiakan rakyat yang dalam artian mampu memberikan kemakmuran bagi rakyat, mengayomi rakyat, dan mensejahterakan rakyat Indonesia.

Setelah saya melakukan wawancara masih terus ada satu persatu peserta pemilu yang berdatangan, tidak semua datang pagi tetapi ada yang siang karena saat pagi masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Pemilu ditutup pada saat jam 13.00 dan kemudian para petugas beristirahat. Setelah istirahat pada pukul 14.00 dimulai melakukan penghitungan suara yang pertama adalah perhitungan suara presiden dan wakil presiden dimana jumlah seluruh suara yang ada adalah 214, yang terdiri dari 185 suara untuk calon nomer urut 01, 24 suara untuk nomer urut 02 dan 5 suara rusak. Dan tentunya di TPS 6 Desa Grogolan suara terbanyak dimenangkan oleh calon presiden dan wakil presiden nomer urut 01 yaitu JOKOWI-MA’RUF.

 

Comments

Popular Posts