RELIGI DAN ETIKA JAWA DALAM PEMILU DI DESA GROGOLAN
Seperti
yang kita ketahui, hari Rabu, 17 April 2019 adalah hari dimana seluruh rakyat
berpesta demokrasi, dimana rakyat diberikan kebebasan dalam menyalurkan hak
suaranya dalam memilih pemimpin, baik presiden dan wakilnya, DPR RI, DPRD
Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan DPD. Di tahun ini merupakan tahun yang sangat
istimewa karena baru di tahun ini pemilu diadakan secara serentak tidak seperti
biasanya. Setiap akan melakukan sesuatu pastinya akan selalu dibarengi dengan
religi dan etika terutama di masyarakat Jawa.
Dalam
Religi masyarakat Jawa menjalankan hidupnya lebih berserah kepada Tuhan, mereka
percaya hidup di dunia hanya sementara dan hidup abadi hanya ada di akhirat.
Seperti dalam Serat Sasongka Jati, ditegaskan bahwa sikap hidup jawa semacam
itu lazimnya ditandai adanya watak: eling (sadar), percaya, mituhu (setia),
rila, narima (tidak memaksa diri), temen, sabar (tahan cobaan), berbudi luhur,
mawas diri, dan satria pinandhita (tidak tergiur semat, derajat, kramat,
hormat) dan sepi ing pamrih,rukun. Masyarakat Jawa selalu nrima tetapi bukan
berarti diam, nrimanya masyarakat Jawa sudah didasari oleh usaha terlebih
dahulu, setelah itu baru mereka akan pasrah atau berserah kepada Sang Maha
Pencipta. Begitu pula dengan masyarakat Jawa yang ada di Desa Grogolan, memilih
pemimpin adalah suatu hal yang dianggap sangat besar tidak boleh sembarangan
karena pemimpin yang akan datang merupakan penentu kemakmuran rakyat. Pada
malam sebelum diadakannya pemilu yaitu tepatnya pada tanggal 16 April 2019
warga Desa Grogolan melaksanakan do’a bersama saat setelah melakukan sholat
maghrib berjama’ah di mushola. Para warga bersama-sama berdzikir, berdo’a agar
diberikan kemantapan dalam memilih dan pilihannya tersebut tidak serta merta
datangnya dari diri sendiri tetapi dari Gusti Allah. Setelah melakukan do’a
bersama warga melaksanakan sholat isya’ berjama’ah di mushola yang sama juga
dan setelah itu para warga melakukan tirakatan berupa lek-lek an atau tidak tidur pada malam sebelum diadakanya pemilu.
Tetapi tidak semua mengikuti tradisi ini hanya beberapa orang yang terdiri dari
anak muda laki-laki dan bapak-bapak saja. Mereka berjaga di depan Pos-Pos yang
merupakan tempat yang digunakan untuk pemilu esok hari.
Untuk
hal-hal yang berbau mistis, masyarakat di Desa Grogolan sudah tidak percaya
akan hal itu. Mereka semua menyandarkan hanya kepada yang Maha Kuasa entah siapapun
yang akan menjadi pemimpinnya itu berarti sudah pilihan yang terbaik dari Yang
Maha Kuasa. Jadi tidak ada ritual-ritual yang menggunakan sesajen atau
semacamnya, yang ada hanya do’a bersama yang diadakan di mushola dengan
menyandarkan seluruhnya kepada Tuhan. Pada saat hari H pemilu yaitu pada
tanggal 17 April 2019 warga Desa Grogolan memilih calon pilihannya sesuai
dengan kata hatinya dan dibarengi dengan do’a semoga yang dipilihnya itu
datangnya bukan dari setan melainkan dari Tuhan. Mereka seluruhnya pasrah akan
kehendak Tuhan siapa yang kelak akan menjadi seorang pemimpin.
Di
dalam masyarakat Jawa tidak terlepas dengan etika, terutama alus dan kasar.
Dalam pandangan James T. Siegel kategori alus dan kasar adalah salah satu kategori
hierarki dalam masyarakat Jawa yang bisa terwujud dalam bahasa dan perilaku.
Kasar dicirikan oleh kekuatan fisik, penampilan sangar, banyak bicara, banyak
melakukan gerakan yang tidak perlu, dan agresif serta menyukai kekerasan. Sifat
alus identik dengan gerak yang sederhana tapi menyimpan energi besar, bicara
halus, dan penuh pengendalian diri. Dalam bahasa Benedict Anderson, sifat halus
ini adalah identik dengan kemampuan untuk mengendalikan diri dan ini biasanya
hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki Kuasa atau Kesaktian. Budaya
kekerasan dianggap bertentangan dengan budaya jawa yang adiluhung, halus, penuh
tata krama, dan sarat unggah-ungguh. Kondisi ideal manusia menurut masyarakat
Jawa adalah manusia yang memiliki watak halus, sopan, dan mampu meneb atau penuh
pengendalian diri dan pengendalian perasaan.
Begitu
pula dengan cara warga masyarakat desa Grogolan menentukan pilihannya dalam
memilih calon pemimpin. Mereka bukan melihat visi dan misinya tetapi melihat
perilaku dari calon pemimin, mereka mulai menilai dari saat adanya sosialisasi,
debat, dan lain sebagainya. Warga masyarakat justru lenih suka dengan calon
pemimpin yang mempunyai sifat merendah, tidak sombong, mau menyapa dan halus
tetapi bijaksana. Seperti contoh ada salah satu calon DPRD daerah yang berasal
dari desa sebelah itu sama sekali tidak ada yang memilih, baik dari
keluarganya, temannya, tetangganya maupun semua warganya. Alasan mereka adalah
karena calon tersebut hanya disuruh datang ke desanya sendiri sampai hari H
pemilu beliau tidak datang. Padahal warga tidak meminta apa-apa, warga hanya
ingin beliau melakukan sosialisasi dan setidaknya basa-basi memohon do’a restu,
serta dukungan untuk beliau. Tapi faktanya beliau tidak melakukan itu hingga
pada akhirnya warga yang hidup bersama beliau di desa tersebut sama sekali
tidak memberikan dukungan. Dari hal-hal terkecil yang dilakukan calon pemimpin
mampu dijadikan pertimbangan bagi para warga terutama dalam hal perilaku. Dari
hal ini terlihat bahwa sebagian warga desa sangat mengutamakan unggah ungguh
untuk mempertimbangkan segala hal terutama dalam suatu hal yang besar yaitu
pemilu.

Comments
Post a Comment