REVIEW BUKU ETIKA JAWA Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa halaman 31-37 tentang Kedatangan Agama Islam dan Perkembangan Selanjutnya

 Judul buku      : ETIKA JAWA Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa

Penulis             : Dr. Franz Magnis-Suseno SJ

Penerbit           : PT Gramedia

Cetakan/hal     : 1984/265

Pada tahun 1292 di Sumatra Utara sebuah kota pesisir yang bernama Perlak baru saja memeluk islam. Pada tahin 1414 raja Malaka yang didirikan di pantai barat Malaya dalam abad XIV masuk agama Islam. Kesultanan Malaka menjadi pusat penyebaran agama Islam direbut oleh Portugis pada tahun 1511. Pedagang-pedagang Islam dari Arab dan Gujarat, orang Jawa yang berkedudukan di Malaka membawa agama Islam ke kota-kota pelabuhan Pantura Pulau Jawa. Makam muslim pertama di Jawa berasal dari tahun 1914. Pada saat yang sama, kekuasaan Majapahit semakin merosot. Penguasa-penguasa kota pesisir utara di pedalaman memeluk agama Islam. Agama Islam menjadi menarik bagi kota-kota pesisir dari dua segi, yaitu sebagai perlawanan terhadap Majapahit dan alternatif terhadap keseluruhan pandangan dunia Hindu. Kedatangan Islam ke Jawa melalui Gujarat di India dan dalam suatu bentuk yang sangat dipengaruhi oleh sufisme, mistik Islam. Oleh karena itu agama Islam dapat diterima dan diintegrasikan ke dalam pola budaya, sosial, dan politik yang sudah ada. Kyai dan ulama mempertahankan sebagian besar kebudayaan Hindu Jawa dan ciri mistik ajaran Islam mencocokkannya tanpa kesulitan ke dalam pandangan dunia Jawa tradisional yang kemudian melahirkan kebudayaan santri Jawa.

Pada tahun 1526 Batam, Jawa Barat memeluk agama Islam. Tahun 1511 Demak, Jawa Tengah telah menjadi kesultanan. Dengan diterimanya agama Islam, kraton-kraton di pedalaman Jawa mulai unggul terhadap kesultanan-kesultanan di pesisir Utara. Pada akhir abad XVI Senapati dari Mataram berhasil memperluas pengaruhnya sampai ke kediri dan menaklukkan Demak. Agung (1613-1645) cucu Senapati, menghancurkan kota-kota perdagangan Pesisir Utara dan menaklukkan seluruh Kepulauan Jawa kecuali Batam dan Blambangan yang mempercepat kematian perdagangan jawa. Pada tahun 1641 agung mendapatkan gelar sultan dari Mekkah dan menyuruh pujangganya untuk menulis sejarah Jawa untuk memperlihatkan Sultan Agung sebagai penerus legitim penguasa Majapahit. Selama 150 tahun berikut, kekuasaan Mataram terus menyusut. Perselisihan suksesi memcahbelahkan kerajaan mengakibatkan kraton beberapa kali pindah. Tahun 1755 Kerajaan Mataram terpecah ke dalam Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Setahun kemudian Pangeran Mangkunagara merebut sebagian Kasunanan Surakarta. Akhirnya tahun 1813 Kesultanan Yogyakarta terpecah. Tahun 1798 Indonesia diserahkan oleh Oost Indische Compagnie kepada Pemerintah Belanda, hanya pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX di Yogyakarta yang mempunyai arti politik, akhirnya beliau diangkat menjadi kepala DIY.

Pada akhir abad XVIII hampir seluruh Pulau Jawa beragama Islam, pusat Islam adalah kota-kota pesisir utara. Di situlah titik berat kebudayaan santri. Tetapi walaupun kraton memeluk agama Islam, namun gaya pengaruh tradisi Hindu-Jawa lebih menonjol. Agama Islam dianggap sebagai persiapan untuk memperoleh kasatuan dengan Ilahi, dan apabila kesatuan itu telah tercapai, bentuk persiapan itu dianggap tidak begitu penting lagi. Di kraton Surakarta berkembang kesusastraan mistik Islam yang bersifat heterodoks. Pada akhir abad XIX Tanah Jawa dikuasai oleh Belanda. Belanda dalam rangka politik indirekt menyerahkan pelaksanaan penarikan upeti kepada elite priyayi dalam negeri. Di lain pihak kontak yang semakin banyak dengan negara-negara Timur Tengah, terutama sesudah pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869, mengakibatkan suatu gerakan pembaharuan dalam agama Islam Indonesia. Mistik Jawa yang heterodoks ditolak. Dengan sendirinya polarisasi antara aliran kebudayaan santri dan aliran yang tetap berpegang pada kebudayaan Jawa semakin terasa, sehingga skisma santri abangan mulai nampak. Tendensi itu masih diperkuat oleh gerakan kebangkitan nasional dalam abad XX. Tahun 1908 muncul Budi Utama. Tahun 1913 dibentuk politik pertama bernama Sarekat Islam, dalam waktu sepuluh tahun SI terjadi konfrontasi antara yang berpedoman agama islam dan yang berpedoman komunis. Tahun 1945 polarisasi mengakibatkan krisis yang berupa unsur Islam radikal yang menolak RI. Tahun 1950 DI memberontak dan ditumpas pada tahun 1960-an.

Betapa mendalam perbedaan antara kelompok yang berpedoman Jawa dan berpedoman Islam. Dalam tulisan ini golongan masyarakat Jawa yang berorientasi pada kebudayaan santri tidak dibicarakan. Selanjutnya, kata “Jawa” selalu dipergunakan untuk varian “Jawa Kejawen”, entah dia itu wong cilik entah priyayi.

Comments

Popular Posts