REVIEW BUKU KELUARGA JAWA HILDRED GEERTZ

Mojokuto merupakan sebuah kecamatan yang memiliki penduduk kira-kira sebanyak 20.000 jiwa, letaknya di daerah tepi dataran persawahan dan bukit-bukit. Mojokuto menjadi pusat perdagangan, pemerintahan, dan pendidikan. Dahulu di daerah ngarai dekat kota terdapat pabrik gula yang dimiliki oleh Belanda, tetapi walaupun seperti itu tidak banyak orang Belanda yang tinggal di Mojokuto namun mampu membawa pengaruh yang besar bagi sistem ekonomi. Mojokuto terletak di pertigaan jalan raya yaitu ke arah selatan, timur, barat, dan disana teretak kerajaan Hindu-Jawa Kuno Bragang pada abad ke-13. Candi-candi disana terkadang diberi sesaji oleh masyarakat untuk para arwah yang tinggal di candi tersebut. Sampai sekarang ini Mojokuto masih menjadi pusat perdagangan dengan sebuah rel kereta api dan rel lori yang digunakan masyarakat setempat untuk melakukan aktivitas ekonomi. Selain itu terdapat pula sebuah pohon besar yang tumbuh di pertigaan Mojokuto, di bawahnya terdapat patung kecil dari batu yang menggambarkan dewa gajah Hindu, Ganesya sebagai tempat kediaman roh baureksa. Pada sudut pertigaan jalan terdapat sebidang tanah terbuka dan bangunan kecil yang dulunya merupakan tempat tinggal dan kantor Kepala Distrik Mojokuto, wedana. Disana masyarakat memiliki kekuasaan yang luas di daerahnya sendiri.

Dinas pemerintahan menyerap tenaga kerja penduduk kota dan menarik penduduk desa masuk ke kota. Di sana terdapat dua belas SD tetapi penduduk kota sering mengirimkan anak-anak mereka ke kota-kota yang lebih besar untuk mendapatkan pendidikan yang lebh baik. Pusat kegiatan kota ada di pemerintahan dan pasar. Organisasi sosial dari kelompok pasar penduduk Jawa sangat rumit, mereka hanya mendapat laba yang sedikit, sedangkan industri di Mojokuto terbatas pada perusahaan kecil. Kota ini juga memiliki beraneka ragam hiburan komersial seperti bioskop, tempat pertunjukan, lokalisasi dll. Penduduk Mojokuto memiliki beranekaragam pekerjaan, mulai dari petani, karyawan hingga pegawai dan pekerjaan inilah yang menciptakan stratifikasi di dalam masyarakat Mojokuto. Golongan elite mempunyai berbagai macam organisasi, selain itu terdapat pula golongan para pedagang kaya yang mempunyai gaya hidup seperti pejabat. Adapula golongan yang lebih rendah yaitu kaum santri dan mereka yakin bahwa agama akan melindungi seseorang beserta keluarganya dari kemelaratan dan kesakitan. Mereka selalu melakukan upacara slametan untuk meminta perlindungan dan restu. Disini stratifikasi masyarakat Mojokuto sangat terlihat dan tidak bisa dipisah-pisahkan.

Comments

Popular Posts