REVIEW JURNAL BUDAYA KEKERASAN DALAM PERSPEKTIF NILAI-NILAI DAN ETIKA MASYARAKAT JAWA
|
Latar
Belakang |
Kebudayaan
Jawa identik dengan kebudayaan yang adiluhung, halus, klasik, hierarkis, dan
aristokratis. Akan tetapi pada masa lalu sebenarnya masyarakat adalah etnis
yang keras dan menjadi “bangsa” penakluk. |
|
Tujuan
Penelitian |
Untuk
mengetahui bagaimana budaya kekerasan dalam perspektif nilai-nilai dan etika
masyarakat jawa |
|
Subjek
Penelitian |
Masyarakat
Jawa |
|
Hasil
dan Pembahasan |
Kebudayaan Jawa selalu digambarkan
sebagai kebudayaan yang halus dan penuh dengan tata krama. Kedua sifat
tersebut dapat terlihat dari tradisi dan kebudayaan masyarakat Jawa seperti
tari-tarian serta bahasa. Meskipun demikian, pada masa lalu Jawa merupakan
suku yang keras dan menjadi penakluk di medan perang ketika masa kerajaan. Dahulu ketika hadir kekuatan
kapitalisme yang dibawa oleh VOC ke Jawa menimbulkan banyak terjadi gejolak
antara belanda dengan masyarakat Jawa, Mataram terbagi menjadi dua dan
terjadi peperangan diponegoro. Kehadiran kolonial Hindia Belanda ini merusak
sistem kekuasaan yang ada di jawa yang sebelumnya berada di tangan kerajaan
menjadi kekuasaan kolonial hindia belanda. Dalam masa ini kekerasan dalam
bentuk perang fisik yang dilakukan masyarakat jawa adalah untuk
mempertahankan dirinya. Ketika masa revormasi saat banyak
terjadi amuk massa di berbagai daerah di Indonesia, masyarakat Jogja justru
menyuarakan gerakan revormasi tersebut dengan damai tanpa keributan yang
dipimpin oleh Sultan HB X. gerakan itu disebut dengan pisowanan ageng.
Dalam pisowanan ageng ini banyak tindakan yang bermakna jika
dikaitkan dengan konteks alus dan kasar. Menurut
pandangan James T. Siegel alus dan kasar adalah salah satu kategori
hierarki dalam masyarakat jawa. Watak alus lebih tinggi dari kasar. Hirarki
ini dapat dilihat dari ungkapan Jawa “Dupak bujang, semu mantri, esem
bupati” Watak alus adalah kondisi ideal manusia Jawa yang untuk
mencapainya perlu laku, tapa brata, usaha yang sungguh-sungguh dan
serius. Alus identik dengan para satria, bangsawan, dan priyayi, sedangkan
kasar identik dengan wong cilik, dan wong sabrang (orang asing). Dari peristiwa dan kejadian tersebut
dapat dilihat bahwa bagi masyarakat Jawa perilaku kekerasan sebagai suatu
yang bersifat negative sehingga perlu dihindari. Nilai-nilai masyarakat Jawa
yang mampu meredam kekerasan adalah hormat, rukun, dan
isin. Hormat, mempercayai bahwa hubungan dalam masyarakat teratur
secara hierarkis. Rukun, hubungan sosial berlangsung secara harmonis
tdak berseteru, dan isin (malu) jika melakukan hal yang tidak
semestinya. Dilain sisi dalam masyarakat jawa sendiri kekerasan dapat
diwariskan dari nilai-nilai dan etika Jawa misalnya pemujaan terhadap
pahlawan perang yang tersosialisasikan melalui pertunjukan wayang. Meskipun
demikian, hingga sekarang masyarakat jawa masih mempercayai bahwa watak halus
lebih baik daripada kasar yang terwujud pula dalam jargon
Jawa “ Suro diro jayaningrat, lebur dening pangastuti” |
|
Kesimpulan
|
Perilaku
kekerasan atau budaya kekerasan sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak
baik, negatif dan harus dihindari. Kekerasan sering dianggap bertentangan
dengan nilai-nilai dan etika masyarakat Jawa. Integrasi dari prinsip hormat
dan rukun menjadi parameter untuk tidak membolehkan adanya budaya kekerasan
di dalam ranah kebudayaan Jawa. Budaya kekerasan dianggap bertentangan dengan
budaya Jawa yang adiluhung, hakus, dan penuh tata krama, dan sarat
unggah-ungguh. Kondisi ideal manusia menurut masyarakat Jawa adalah manusia
yang memiliki watak halus, sopan, dan mampu meneb atau penuh pengendalian
diri dan pengendalian perasaan. Secara
ambigu, pada sisi yang lain ternyata budaya kekerasan juga diwariskan secara
tradisi dari generasi ke generasi di dalam ranah budaya Jawa. Budaya
kekerasan disosialisasikan dengan sikap menyanjung dan memuja jiwa
kepahlawanan dan jiwa ksatria. Wayang kulit dan wayang wong menjadi media
paling jitu untuk mensosialisasikan budaya kekerasan. Cerita Brata Yuda yang
sarat dengan kekerasan, peperangan, dan pertumpahan darah menjadi cerita
populer dan digandrungi oleh masyarakat Jawa. Hal ini bisa menjadi inspirasi
gagasan kekerasan yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan nyata. |

Comments
Post a Comment